Rabu, 20 April 2011
sepetik buku dari sepetik daun
Senin Yang Cerah
Salatiga 05 Oktober 1987 (menurut akta kelahiran) dengan nama Raditya Adi Utomo (nama pemberian Alm. Kakung aku), yang kemudian di baptislah aku di beri nama tambahan Rafael Raditya Adi Utama, lahir dari rahim seorang Ibu, rambut ikal, kulit kecoklatan sawo matang, mata bulat dan bibir yang seksi hahaha …., teriakan tangisanku membuat perasaan Ibu bercampur aduk rasanya. Tentunya aku anak pertama dari pasangan suami istri tersebut . Entah beberapa bulan mataku mulai terbuka, itulah pertama kalinya aku melihat apa yang dinamakan kehidupan (kebayang ngga sih? Pertama kali malah perdana kalo bisa dikatakan, mata terbuka setelah tidur selama 9 bulan?). “Only God Know’s”, Pertama aku dikenalkan oleh Ibu aku sendiri, beliau menunjukan kepadaku “Inilah aku Ibumu nak…” kemudian perkenalan berlanjut ke sang “penanam benih” yaitu Bapak . Seperti dikisahkan dicerita – cerita di film atau televisi pendidikan yang menceritakan kedua pasangan suami-istri yang sangat mencintai bayi mereka, adegan tersebut tidak ada di sinetron tentunya, kasih sayang mereka sungguh luar biasa, sejak aku sudah mulai membuka mataku, disitulah “Jaman Kejayaan” ku. Dimulai dari tempat tidur yang sangat nyaman, empuk dan harum dikelilingi berbagai macam mainan-mainan pemberian dari mereka berdua ataupun pemberian dari kolega, biar aku tampak lucu dan biar aku selalu terjaga dalam tidurku, dan tempat tidurku yang seukuran 1 m x 0.5 m dikelilingi jeruji kayu pastinya. Kemudian berlanjut berbagai tumpukan baju bayi lengkap dengan sepatu hangatnya, selimut dengan bulu-bulu yang halus alangkah serasa seperti raja pada masa itu. Berlanjut lagi ke bagian yaitu ke minuman dan makanan yang selalu baru dan fresh hahaha … Minuman pun terbagi menjadi dua : Pertama minuman langsung tanpa basa-basi yaitu ASI dan minuman berupa susu bubuk yang ribet bikinnya kalau aku lagi nangis. Dan makananya karena si gigi belum nongol makananya bubur dan buah-buahan (like a monkey :D).
Beranjak ke umur 2 tahun, aku diajak orang tuaku terutama Ibu yang lebih sering mengajak aku berkelana dari kota satu ke kota lainnya tujuannya hanya untuk bersilahturahmi antara keluarga dan kolega lainnya, kemudian mulailah aku diperkenalkan sanak saudara dari Ibu ataupun Bapak , kemudian kata “Suara Asing” (soalnya ngga inget siapa yang bilang :D), “Ini Mbah Uti, itu Mbah Kadir, Ini loh Budhe kamu, mbaknya Mama kamu, ini loh Pakdhe kamu suami Budhe kamu tadi, ini loh Bulik kamu adik Mama kamu bla.. bla.. bla., ini loh .. itu loh ..ini loh.. itu loh..”, membuat yang seusia aku bingung tak karuan, aku hanya bisa tertawa dan ngeces, toh nantinya berjalan seiring waktu aku kenal mereka dengan sendirinya, semua sudah ada yang ngatur. Bapak dan Ibuku selalu mengajakku pergi, itu yang kulihat dari foto-foto dalam album kenangan di rumah. Entah itu pergi ke tempat-tempat perbelanjaan, ke manapun mereka pergi aku selalu diajak, tapi sepertinya aku lebih sering berlangganan ke dokter semenjak aku memasuki usia balita, ya ke dokter , dimana aku ini menderita alergi dimana kalau sedang mencium bau yang menyengat (misal : debu, bensin, dan lain-lain) pasti akan bersin dan pilek, dan paru-paruku rentan terhadap cuaca yang kondusif (sampai sekarang). Itulah letak kelemahan aku, Superman meskipun kuat tapi juga punya kelemahan, karena ngga ada yang lebih kuat dibanding Tuhan itu sendiri J. Di waktu itulah mereka benar-benar menjagaku, takut kenapa-kenapa mungkin, berat badanku turun dengan drastis, tapi aku tetap menjadi pusat perhatian, pusat pelepas rindu, dan menjadi layaknya seorang artis yang sedang naik daun. Mereka masih menyayangi aku, lebih dari apa yang aku duga. Di gendong nya aku bergantian kesana kemari oleh mereka, dicium-ciumnya pipiku, ubun-ubunku, di cubit-cubit pipiku, pantatku (ups…) sampai memerah saking gemesnya atau jengkelnya karena ulahku mengompoli mereka. Yang pasti mereka waktu itu tidak pernah ada rasa marah sedikitpun ke aku. Wajah tanpa dosapun menangis ketika mereka memperingatkan aku ketika nakal. Aku menjadi sangat manja sekali.
Selang beberapa bulan di saat aku menikmati “Jaman Kejayaanku” 23 Juni 1989, Harda Adi Kusuma, yang kelak jadi perwira bangsa lahir lagi dari rahim Ibu yang sama dan tentunya Ayah yang sama pula,dan sekaligus menjadi adikku yang pertama, mata sipit, bulu mata yang lentik, dan rambut, rambutnya lebih parah ikalnya dari aku malah keliatannya bukan ikal tapi kribo, dan kulitnya kuning langsat seperti kulit Ibu. Mulailah “Jaman Kejayaanku” perlahan hilang beralih ke adikku, untung saja waktu itu aku belum merasakan iri hati, dengki dan sifat-sifat yang dimiliki Iblis pada umumnya (katanya sih :D), dari “Jaman Kejayaanku” hilang aku mendapat pelajaran lain yaitu menjaga adikku, menjadikan aku seorang kakak, sebagai contoh buat adikku dan memberi pelajaran buat adikku. Keluarga kami bertambah lagi satu pejantan. Selepas kami beranjak balita yang kami dititipkan oleh kedua orang tua kami kepada Mbah Uti (Sebenarnya Mbah Putri atau Mbah Perempuan arti dalam Bahasa Jawa, biar lain daripada yang lain panggilannya menjadi Uti yang berarti Putri tersebut). Entah kenapa waktu itu orang tua kami menitipkan kami berdua, Yang jelas disinilah petualangan kami berdua di mulai, petualangan yang begitu panjang, petualangan dimana dunia kami tidak pernah tidak.
perandaian hujan
Lihatlah matahari sudah lelah bekerja separuh hari lamanya.
Jatahnya si bulan sekarang yang berjaga sampai Matahari nanti bekerja kembali dan seterusnya.
Semoga saja si Bulan tidak kalah bertarung dengan gerombolan-gerombolan awan yang memakai jubah hitam dan merampok malam-malam ini dan kemudian meludahkan air-air yang seharusnya tak mereka ludahkan musim ini.
Hujan...
Ya sangat populer akhir-akhir ini
Mengalahkan kepamoran para tikus-tikus negara, penjilat pajak, dan penjahat-penjahat infotainment yang lainnya.
Tidak peduli dengan mereka yang hanya berbicara fakta namun hasilnya nol besar, bahkan bulatnya nol lebih besar dari bumi, saking tidak bisa mereka mempertanggung jawabkan ke bullshit'an mereka.
Hujan sampai di tanah Minang
Aiiihh ... Dayu-dayu melayu
Si maringgih tua melamar siti
Si Siti hatinya menjadi pilu
Daripada menjadi istri tua bangsat lebih baik mati.
Sekarang bukan waktu yang menjawabnya
Namun sekarang hujan lah yang menjawabnya.
Dan hujan menemaniku berkawan dengan sajak.
Madiun
080411
Jatahnya si bulan sekarang yang berjaga sampai Matahari nanti bekerja kembali dan seterusnya.
Semoga saja si Bulan tidak kalah bertarung dengan gerombolan-gerombolan awan yang memakai jubah hitam dan merampok malam-malam ini dan kemudian meludahkan air-air yang seharusnya tak mereka ludahkan musim ini.
Hujan...
Ya sangat populer akhir-akhir ini
Mengalahkan kepamoran para tikus-tikus negara, penjilat pajak, dan penjahat-penjahat infotainment yang lainnya.
Tidak peduli dengan mereka yang hanya berbicara fakta namun hasilnya nol besar, bahkan bulatnya nol lebih besar dari bumi, saking tidak bisa mereka mempertanggung jawabkan ke bullshit'an mereka.
Hujan sampai di tanah Minang
Aiiihh ... Dayu-dayu melayu
Si maringgih tua melamar siti
Si Siti hatinya menjadi pilu
Daripada menjadi istri tua bangsat lebih baik mati.
Sekarang bukan waktu yang menjawabnya
Namun sekarang hujan lah yang menjawabnya.
Dan hujan menemaniku berkawan dengan sajak.
Madiun
080411
harda dan kelereng
si Harda kecil berlari dengan kedua kakinya
tak menghiraukan teriknya siang itu
membawa sepeda BMX warna hijau
menyusul kakaknya yang sedang bermain kelereng di belakang sekolah.
Matanya yang sipit
tak menghiraukan tanjakan yang ada di depannya
melewati perkebunan jagung yang ada di sampingnya.
di letakannya sepedanya bergegas menunggu gilirannya bermain.
Tak kunjung usai gilirannya tiba
dengan bibirnya yang di kucir si Harda kecil bergegas pulang
tak peduli kelereng yang dia bawa jatuh berserakan di tanah
karena kantung celanannya bolong.
Mungkin saking kesalnya dia mengacuhkannya.
Tiba di rumah dia sedang makan
disuapin oleh Mbah Utinya
sambil menenteng senjata mainannya
sepertinya baru saja dia sedang bermain tembak-tembakan sendirian
penghilang sepi, penghilang suntuk karena tadi siang
tidak bisa bermain kelereng.
Langganan:
Komentar (Atom)


